"dalam ini tergores satu bentuk menawan yang lagi-lagi menari dengan anggunnya. lalu kuterdiam dalam setitik kedip penuh arti, coba hirup bentuk menawan, sambil berlutut di depan indah dirimu ....... afiffatul ulfah 'Vava' "

keberhasilan un atau pembodohan diri sendiri

ujian nasional telah selesai dilaksanakan dengan (mungkin) berbagai hasil yang masih harap-harap cemas dari berbagai sekolah. suatu keberhasilan sekolah masih selalu diidentikan dengan keberhasilan mengantarkan anak-anak peserta didik mereka dapat lulus seratus persen walaupun (mungkin) akan dilakukan berbagai banyak jalan.


tak bisa dipungkiri, pelaksanaan ujian nasional tahun ini pun masih jauh dari harapan semua pihak "khusus mengenai sukses pelaksanaan". banyak terjadi kecurangan-kecurangan yang masih jelas-jelas terjadi di banyak sekolah di berbagai daerah baik sekolah yang benar-benar sudah mempunyai predikat sebagai sekolah favorit maupun sekolah yang asal-asalan yang penting ada muridnya.
satu hal yang perlu dicermati, kenapa masih banyak kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional? apa masih kurangnya guru memberikan materi? sehingga pada waktu pelaksanaan ujian guru masih dianggap memberikan materi yang belum diajarkan dan ternyata muncul di butir-butir soal. atau memang kebiasaan siswa yang sudah terbiasa dengan belajar sistem kebut semalam? tidak mau menyiapkan jauh-jauh hari. atau yang lebih parah lagi, memang sudah menjadi tradisi sekolah untuk selalu membantu kesulitan-kesulitan siswa dalam menghadapi ujian nasional. dan yang lebih mengherankan lagi ada seorang kepala sekolah yang berani mengancam kepada guru yang mau benar-benar bertindak tegas mau melaporkan segala kecurangan dalam mengahdapi ujian nasional.

Ketua Komisi Pendidikan DPRD Jawa Tengan M. Iqbal Wibisono mengatakan, praktek kecurangan dalam ujian nasional bisa dilakukan oleh para pejabat dinas pendidikan. Sebab selama ini ada anggapan jika tingkat kelulusan siswa di suatu daerah rendah, maka daerah tersebut akan dianggap tidak maju. Sebaliknya, jika tingkat kelulusan tinggi maka daerah itu dianggap daerah yang maju.

hanya karena kepingin dianggap sebagai daerah yang maju, pantaskah bila harus mengejar angka kelulusan siswanya dengan cara-cara yang tidak dibenarkan? seharusnya kita harus berfikir lebih jauh, bila ternyata kualitas hasil lulusan siswanya tidak dapat dipertanggung jawabkan, kenapa harus bangga disebut daerah yang maju karena tingkat kelulusan siswanya tinggi. harusnya kita malu, betapa pengecutnya kita tidak berani menghadapi apa yang ada didepan kita.

Dra. Aan Rohanah, M.Ag. Anggota Komisi X DPR RI mengemukakan : Kecurangan UN Rendahkan Mutu Pendidikan.
Inspektorat Jenderal (Irjen) Depdiknas diminta tegas meindak siapa saja yang ikut terlibat kecurangan dalam pelaksanaan UN. Ketegasan tersebut dibutuhkan untuk peningkatan mutu pendidikan.

timbul pertanyaan, apakah selama ini sekolah-sekolah yang banyak melakukan kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional sempat berfikir bahwa cara-cara seperti itu akan jelas-jelas merendahkan mutu pendidikan (walaupun siswa dapat lulus dengan hasil yang tinggi).

Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) masih enggan berkomentar soal kecurangan pelaksanaan ujian nasional (UN).
"Sampai saat ini belum bisa mengeluarkan statement apapun," ujar anggota BSNP Ning Karningsih, Jalan Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (24/4/2008).

terakhir yang patut kita jadikan renungan, apabila kecurangan-kecurangan selama pelaksanaan ujian nasional tidak dapat kita cegah (atau minimal dapat kita kurangi) bukan tidak mungkin lagi di tahun-tahun yang akan datang siswa, guru, kepala sekolah, atau dinas dikpora setempat, dan bahkan bsnp, akan selalu mencari cara-cara yang lebih rapi untuk dapat sukses menempuh ujian nasional yang tentunya dengan cara-cara yang tidak baik. dan lebih mungkin lagi akan beredar buku-buku bimbingan cara-cara praktis "sukses ujian nasional tanpa harus belajar" atau "panduan ujian praktis tanpa belajar". renungkanlah.

Dikutip dari berbagai sumber.

0 komentar: